Bukan Sekedar KAMUS!

loading...

Back to Nature

Back to nature. Kembali ke alam bebas. Mungkinkah? Mungkin saja kenapa tidak. Jika alam bebas yang di maksudkan adalah tinggal di pelosok negeri yang di karunia dengan keindahan dan kekayaan alam yang beragam,. Diantara semak dan hijaunya pepohonan, dalam semerbak harum bunga kopi yang bertebaran dan debur ombak yang selalu riang mengiringi irama kehidupan. Indah dan mempesona bukan? Ini baru dalam bentuk tulisan, jika anda menyempatkan diri untuk menengok sejenak hakikat dari melestarikan keindahan alam.. maka hati anda akan bernyanyi penuh kesyukuran dan tidak lagi mengumankan pusisi tragedi tentang keriuhan kota yang penuh dengan sampah, limbah dan polusi udara. Apakah ini artinya saya mengajak anda kembali ke masa silam dan mempropragandakan kemunduran peradaban? Per-se.

Back to nature bukan berarti kembali ke hutan dan menjadi primitif. Back to nature yang saya maksudkan di sini adalah kembali bersahabat dengan alam dan lingkungan. Menyeimbangkan antara pelestarian dan pembangunan, antara dampak dan manfaat. Manusia dan alam mempunyai ikatan yang erat yang tidak mungkin di pisahkan apalagi saling meniadakan. Alam tersedia untuk diambil manfaatkan, keberadaan manusia adalah untuk menjaga kelestariannya. Hukum timbal balik yang seimbang akan menciptakan keharmonisan antara alam dan manusia serta ekosistem yang tercipta diantara keduanya. Dan untuk back to nature yang dibutuhkan tidak lebih hanyalah sebuah pemahaman dan pengertian.

Teknologi menjamin modernisasi. Intelektualitas meningkatkan integritas. Wawasan mencerminkan pola pikir, cara pandang dan kemampuan memecahkan persoalan. Dunia selalu di ributkan dengan berbagai masalah yang hilang satu tumbuh seribu. Dari global warming hingga global cooling, Dari bencana alam yang alami hingga bencana alam yang sebenarnya dapat di tanggulangi. Yang menjadi modal hanyalah kemauan, keinginan dan pengetahuan. Mampukah kita berpikir selangkah kedepan? Meski dengan pola pikir yang ekstrimis habis seperti ide 'Mencegah banjir dengan membakar hutan'?

Setiap orang ingin disebut modern. Menjadi manusia modern meski hanya sebatas plakat nama tersemat di dada bangganya sudah tidak terkira. Sebenarnya apa sih yang membedakan 'manusia modern' dengan 'manusia yang tidak modern' ? Menurut Meysha Lestari, manusia modern adalah manusia yang bisa menciptakan keharmonisan antara kebutuhan dan keinginan, yang mampu berkata 'tidak' saat kesempatan untuk berkata 'iya' sudah habis. Manusia modern bukanlah mereka yang tingal di kota, menjadi penghuni setianya dalam kemegahan dan kesemrawutan tapi mereka yang mampu memelihara kemegahan itu dan merapikan kesemrawutannya. Manusia modern bukan pula mereka yang tinggal di pelosok menganggumi keindahan alam tanpa berbuat apa-apa karena ketakutan pada kerusakan yang akan di timbulkannya. Sama sekali bukan mereka.

Back to nature bukan hanya sebuah konsep tapi sebuah keharusan yang harus segera di laksanakan jika kita masih berhasrat untuk berdiam diatas bumi ini. Setidaknya di mulai dengan masalah yang kecil dulu seperti pengolahan sampah dan penghijauan secara kecil-kecilan.


loading...
Bagikan :
Back To Top